Dear Bapak (?)
Entah gua kuat atau engga buat nulis ini. Tadinya mau nulis tentang kehidupan percintaan gua. Selain gak ada yang menarik, gua lagi proses move on juga. Nanti kalo gua inget-inget masa lalu, gagal move on lagi kan berabe. So, here we go...
Dear Bapak/Ayah/Papi/Ayahanda,
Haha gak tau gua mau manggil lo apa. ups. Gak sopan ya maaf.
Aku gak tau mau manggil Anda apa. Anda aja ya.
Kenapa sih Anda ngancurin hidup ibu saya? Ya walaupun kalo anda gak gitu, saya gak bakal ada.
Jadi, yaudah deh makasih karena anda udah ngelakuin itu, saya jadi bisa liat dunia ini.
Makasih buat segalanya yang bikin saya kuat sebelum waktunya. Saya harap anda bahagia dengan keluarga anda. Maaf karena ibu saya hampir menggoyahkan keluarga anda. Ya salah anda ngapain kaya gitu. Bukannya membimbing yang lebih muda malah menjerumuskan.
Mau gimanapun ya saya tetap anak anda, dan anda tetap ayah saya. Tapi tolong, saat saya akan menikah nanti, tolong pergi sejauh-jauhnya. Pergi sampai saya tidak bisa menemukan anda. Karena saya tidak ingin melihat wajah anda di hari bahagia saya. Selama 21 tahun, hanya itu permintaan saya.
Anda tahu tidak betapa saya membutuhkan sosok anda dulu? Betapa saya iri dengan anak-anak lain yang bisa dekat dengan ayahnya. Betapa iri nya saya saat ada kalimat bahwa ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Kenyatannya di hidup saya, ayah adalah orang pertama yang saya benci. Saya tidak sedih menulis ini, karena saya tidak punya rasa sayang apapun untuk anda. Mungkin anda juga begitu. Saya tidak peduli. Saat menulis ini, hanya rasa marah yang saya punya. Tidak banyak yang bisa saya katakan karena anda tidak akan pernah ada di hidup saya selamanya.
Anda tahu tidak betapa saya membutuhkan sosok anda dulu? Betapa saya iri dengan anak-anak lain yang bisa dekat dengan ayahnya. Betapa iri nya saya saat ada kalimat bahwa ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Kenyatannya di hidup saya, ayah adalah orang pertama yang saya benci. Saya tidak sedih menulis ini, karena saya tidak punya rasa sayang apapun untuk anda. Mungkin anda juga begitu. Saya tidak peduli. Saat menulis ini, hanya rasa marah yang saya punya. Tidak banyak yang bisa saya katakan karena anda tidak akan pernah ada di hidup saya selamanya.
Komentar
Posting Komentar